jump to navigation

Pendapatan di Bandara Februari 13, 2010

Posted by penulis in info penerbangan.
Tags: , , , , ,
trackback

Pendapatan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (1995:23) adalah “Penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dikenal dengan sebutan berbeda seperti penjualan, royalty, dan sewa.”

Sedangkan menurut Sadono Sukirno (1997:40), “Pendapatan adalah Segala sesuatu penerimaan yang dipengaruhi faktor-faktor produksi, yang mana dalam suatu kegiatan perusahaan penerimaan adalah hasil penjualan dikurangi dengan seluruh biaya perusahaan.”

Dan menurut Arie S. Perdana (2001:6) pendapatan adalah sebagai berikut :

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pendapatan bagi seseorang atau bagi sebuah perusahaan adalah seluruh penerimaan yang diperolehnya apakah itu berbentuk uang ataupun benda berharga karena seseorang ataupun perusahaan telah menjual ataupun menyerahkan sesuatu benda/barang ataupun jasa kepada pihak lain. Tetapi hal ini menjadi tidak sesederhana bila mana saat seseorang ataupun saat perusahaan menerima sesuatu uang ataupun benda yang berharga dengan saat penyerahan barang ataupun jasa terdapat jangka waktu yang cukup berarti pula.

Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa pendapatan bagi seseorang maupun bagi sebuah perusahaan merupakan penerimaan hasil suatu tindakan pemberian/penjualan barang ataupun jasa kepada pihak konsumen. Dengan demikian yang paling berpengaruh terhadap suatu pendapatan adalah faktor-faktor produksi barang atau jasa yang dihasilkan, termasuk juga dalam proses pengolahan pendapatan itu sendiri.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 29 tahun 1998 tentang Struktur dan Golongan Tarif Pelayanan Jasa Kebandarudaraan dan Pelayanan Penerbangan pada Bandar Udara Umum, pelayanan yang diberikan oleh pengelola suatu bandar udara akan menghasilkan suatu pendapatan yang terbagi menjadi 2 yaitu, Pendapatan Aeronautika dan Pendapatan Non Aeronautika. Pendapatan Aeronautika adalah pendapatan yang didapat dari jasa pelayanan langsung terhadap kegiatan penerbangan. Tarif aeronautika ini biasanya ditentukan oleh pemerintah yang dikontrol oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Beberapa jenis pendapatan aeronautika ialah:

  1. Jasa Pelayanan Penerbangan (JP2) ;
  2. Jasa Pelayanan, Penempatan dan Penyimpanan Pesawat Udara (JP4U);
  3. Jasa Pelayanan Penumpang Udara (JP2U) ;
  4. Pemakaian Aviobridge & Counter.

Sedangkan Pendapatan Non Aeronautika adalah pendapatan yang didapatkan dari pengusahaan jasa yang menunjang penerbangan. Beberapa jenis pendapatan dari non aeronautika diantaranya :

  1. Penyewaan gudang, lahan, ruangan, serta fasilitas lainnya ;
  2. Kegiatan Konsesioner ;
  3. Parkir kendaraan ;
  4. Pas bandara (pengeluaran oleh Adbandara namun Pembayaran kepada PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Soekarno-Hatta) ;
  5. Penyediaan lahan bangunan, lapangan, dan industri, serta bangunan yang berhubungan dengan kelancaran angkutan udara ;
  6. Periklanan ;
  7. Pergudangan dan kargo ;
  8. Ground Handling ;
  9. Dan usaha lainnya yang terkait dan yang akan menggunakan fasilitas dan pelayanan bandar udara.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: